Serial surah Al-Baqarah

A side notes : about the word “Muttaqiin”


Assalamu’alaikum Warohmatullah

Alhamdulillah, kembali tetap bisa berbagi ilmu, dan mudah-mudahan tetap bisa selalu begitu. Kali ini saya ingin sedikit berbagi, sebelum kita lanjut ke ayat selanjutnya tentang kata “al-muttaqiin” yang sudah disebutkan sebelumnya di ayat 2 dari surah Al-Baqarah ini. Btw, bagi reader sekalian yang belum tau kemaren-kemaren bahas apa saja, silahkan baca postingannya di link bawah ini:

***

Okay then, sementara menunggu tulisan untuk ayat 5, ada satu kata yang menarik yang perlu saya bagikan untuk pembaca. seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kata itu adalah “al-muttaqiin” yang pertama kali Allah swt. sebutkan dalam penggalan ayat di ayat 2, yaitu “hudan lil muttaqiin”. Kenapa kata ini menarik?

Untuk bisa memahaminya, saya harus sedikit menjelaskan dulu tentang bahasa, walaupun saya pribadi, bukan ahli bahasa. Dalam berbagai bahasa, kita mengenal berbagai kata yang kalo dikelompokkan nanti bisa macam-macam lagi. Secara umum, dapat kita katakan ada “kata kerja” atau “verb” dalam bahasa Inggris atau “fi’il” dalam bahasa arab. Dan ada pula “kata benda” atau “noun” dalam bahasa Inggris atau “isim” dalam bahasa arab. Dalam bahasa manapun, tentu akan sangat beda definisi dan penggunaan dari kata benda dan kata kerja.

Contoh saja kalo dalam bahasa Indonesia, kata “makan” dan kata “makanan” jelas bermakna berbeda, ya kan? Nah keterbatasannya bahasa Indonesia adalah, perbedaan ini agak sulit untuk dipisahkan dan tidak terlalu krusial untuk menjadi pembeda dalam konteks kaitannya dengan waktu. Sangat berbeda dengan bahasa Inggris ataupun bahasa Arab. Dalam Bahasa Inggris, ada istilah “tenses” dimana kata kerja bisa berubah sesuai dengan kapan kata kerja itu digunakan, apakah di masa lalu, di saat ini, ataukah di masa depan. Sama seperti bahasa Arab. Oleh sebab itu, kali ini saya akan membandingkan kedua bahasa ini saja, karena lebih relevan.

Untuk mempersingkat dan menyederhanakan masalah, saya cukup akan katakan kesimpulannya saja, yaitu bahwa yang namanya kata kerja itu terikat dengan waktu, entah itu di masa lalu, sekarang, ataupun masa depan. “eat”, “ate”, dan “eaten” adalah contoh nyatanya. Beda dengan “food”, yang akan tetap jadi “food” mau dia digunakan di masa lalu, sekarang, ataupun nanti. Dan dalam bahasa Arab juga sama seperti itu. Ketika fi’il digunakan, itu pasti ada kaitannya dengan waktu, entah itu di masa lalu, ataupun sekarang (atau nanti). Beda dengan isim, yang tidak terikat dengan waktu.

Yang menarik adalah, ketika Allah swt. menggunakan kata “al-muttaqiin” di ayat itu, kata ini adalah sebuah “isim”, bukan sebagai “fi’il”. Dan tentu saja karena dia adalah “isim” artinya orang-orang ini tidak terikat waktu. Mereka ada sejak jaman dahulu, dan akan terus ada hingga akhir zaman. Apa dampaknya? Atau apa hikmah yang bisa kita ambil hanya dari penggunaan kata “Muttaqiin” ini?

Tidak Boleh Putus Asa

Implikasi pertama adalah bahwa kita tidak boleh putus asa, dan bersedih hati bahwa kita tidak bisa jadi orang yang bertaqwa. Sebagian dari kita, mungkin sudah putus asa dan berkata, “lu mau jadi orang yang alim di jaman edan begini? Ngaca dong, liat sekeliling lu. Di jaman edan, kalo lu gak edan juga, lu bakal kegilas.” Inilah maksudnya putus asa. Karena melihat lingkungan yang begitu rusak, dan rasa-rasanya sudah gak bisa di selamatkan lagi. Dan seolah satu-satunya pilihan bagi kita adalah ikut dalam kerusakan itu. Karena memang sudah gak bisa di apa-apain lagi. Dan apa yang Allah lakukan? Hanya lewat kata “muttaqiin” ini, Allah ingin mengingatkan kita bahwa harapan itu masih ada.

Lewat kata “muttaqiin” ini, Allah ingin mengingatkan kita bahwa harapan itu masih ada. Gak peduli serumit dan separah apapun kondisi, di dalamnya pasti masih ada orang yang bertaqwa. Di dalamnya pasti masih ada orang yang menjaga integritasnya, masih mau jujur, masih mau berkorban, masih mau menolong, masih mau mendengarkan, masih mau berempati, inilah kualitas orang-orang yang bertaqwa. Mereka sangat hati-hati dalam bersikap, berkata, dan berbuat. Dan sikap yang dilakukan orang-orang inilah yang bisa kita jadikan contoh untuk kita ikuti, agar kita bisa memperoleh petunjuk dari AlQuran ini. Jadi kita gak boleh putus asa. Harapan itu tetap ada, dan itu sudah dijamin Allah.

Bagi kita Muslim Indonesia, kita harus bersyukur kita masih punya cukup banyak contoh baik yang bisa diikuti, dan mereka muslim. Dan bagi kalian yang berjuang di tempat dimana muslim menjadi minoritas, jangan bersedih, karena Allah pasti sudah menitipkan role model di sana, atau bahkan lebih baik, jadikan diri kita sebagai role model bagi orang-orang yang bertaqwa.

Taqwa Bukan Barang Baru

Implikasi kedua adalah dengan Allah menggunakan kata ini, itu artinya ketakwaan itu bukan barang baru. Bahwa sebelum Islam datangpun, sudah ada orang yang bertaqwa. Yaitu mereka yang menjaga diri dan berhati-hati dalam bersikap, dalam mencari harta, dalam bertutur kata, dalam memperlakukan orang lain, walaupun mereka belum menjadi muslim. Dan dengan kata “muttaqiin” ini, Allah mengundang mereka semua, kalau ingin “selamat”, kalau ingin tau mana jalan yang benar, maka ikutilah petunjuk yang ada di dalam Kitab ini. Apa saja syaratnya? silahkan baca di penjelasan ayat 3 dan 4 yang ada di link di atas.

***

Jadi, luar biasanya ayat ini adalah hanya dengan satu kata, Allah bisa memberikan harapan, dan sekaligus mengundang semua manusia yang peduli terhadap dirinya. Dan itu sebabnya juga kata “muttaqiin” ini menarik, karena kalo di ganti dengan kata “muslimiin” atau “mukminiin” saja misalnya, maka petunjuk yang ada di dalam Quran ini hanya bisa diperoleh kalo seseorang itu sudah masuk islam. Tapi dengan kata “muttaqiin” maka jadi ajakan sekaligus tantangan juga bagi siapa saja yang tertarik untuk baca, jika sikapnya benar, niatnya benar, dan attitudenya benar dalam mempelajari Quran ini, maka dia akan mendapatkan petunjuk. SubhanAllah… satu kata yang mengubah semuanya.

Semoga dengan kita semakin mengenal apa yang Allah katakan dalam setiap katanya, semakin membuat kita optimis, semakin membuat kita yakin, semakin menghilangkan keraguan kita, bahwa ini gak mungkin buatan manusia. Kitab ini adalah surat cinta Allah swt. kepada hambaNya. Dan didalamnya berisi petunjuk bagaimana untuk menjalani hidup ini sesuai harapan pencipta kita. Mudah-mudahan kita bisa memenuhi harapan dan keinginan dari pencipta kita, dan dibimbing sebagaimana orang-orang terdahulu sudah dibimbing ke jalan yang benar.

In syaa Allah kita akan lanjut ke ayat 5 di tulisan berikutnya. Stay tune terus di blog ini. Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca sekalian. Akhirul kalam.

Wassalamu’alaikum warohmatullah

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s